Arsip untuk Oktober, 2008

31
Okt
08

hampa

Sudah 3 hari ini aku merasa hampa, terasa amburadul.. saat berpikir, bertindak bahkan saat aku menghadapi kelincahan buah hatiku. Entahlah.. Bahkan telah hampir 1 jam aku memandang layar monitor didepanku, masih saja perasaan ini terasa berada dalam kapal ditengah badai lautan. Aku seperti sendiri dalam hiruk pikuk suasana kantor.. Aku merasa sepi, sesepi saat rindu, sehampa saat kehilangan, dan menduka seperti patah hati. Apakah ini Rabb.. kelelahankah atas perjalananku? Atau karena isi kepalaku ini tlah overload?

Masih aku terpekur di kursi ini, bergoyang kekanan-kekiri.. Rasanya seperti inikah? Kehampaan yang begitu sepi.

Hasbunallah wa ni’mal waqil.. Rabb, bantulah hamba, cukupkanlah hamba..

30
Okt
08

malam cinta

andai kau adalah cintaku

akankah kita lewati jalan setapak penuh doa ini

kita berjalan di atas semaian kalimat dzikir dan pujian

berpelukan dalam sujud taubat kala malam bernyanyi

dan aku, menggenggammu, bersama tahajudku

mungkin kesempurnaan ini, bukan untuk kita

milik cinta yang diagungkan

atas jiwa berbalur asa

yang masih kunanti tanpa batas

Lanjutkan membaca ‘malam cinta’

28
Okt
08

Elegi cinta ladang tebu

Tak sengaja kubertemu teman lama. Sebenarnya tidak pantas aku menganggapnya sebagai teman, karena selain usianya sama dengan usia Bapakku, atau karena status sosialnya yang sudah jauh dari rata-rata orang seumuran dia, juga karena pengalamannya yang membuatnya semakin matang. [meskipun tidak bisa kukatakan dia orang yang bijaksana dengan apa yang sudah dia lakukan.. :D ]

Kami berbincang cukup lama, bahkan melebihi batas waktu istirahatku, hingga pada akhirnya aku harus memburu waktu agar tak tertinggal saat-saatku bisa berjumpa dengan kekasih sejatiku, Rabb-ku..

Kebiasaannya masih sama seperti dulu, menyemir rambutnya yang tipis agar terlihat tetap muda, kumisnya yang dipotong dengan rapi, seakan menggambarkan bahwa dia punya jiwa yang berkobar. Gaya berpakaiannya yang macho dan parfumnya yang begitu wangi, mengundang banyak wanita yang dilewatinya berhenti sejenak sekedar untuk  melirik bahkan tak segan untuk menatapnya. Dia kemudian duduk didepanku, mengeluarkan HP Nokia seri E90 warna hitamnya. Juga saputangan yang ternyata masih setia menemani saat terakhir aku berjumpa dengannya. Banyak sekali elegi cinta yang diceritakannya. Masih juga dia membagi hati dengan orang yang sama, si penjual anggrek itu. Tak berubah.. :D

Lanjutkan membaca ‘Elegi cinta ladang tebu’

28
Okt
08

Kau

Dalam rinai hujan kupandangi wajahmu

membisu

meragu

tlah basah tubuh ini dengan cumbuan

memenuhi seluruh bara hasrat ini

tak lagi kubutuhkan tanya

karena kutahu, kau masih disana

untukku kah?

Lanjutkan membaca ‘Kau’

27
Okt
08

Hujan

Hujan yang mengguyur Magelang dan sekitarnya hari ini, seakan seperti tangis gadis yang tengah patah hati, yang sedang kehilangan kekasihnya tercinta. Ah, apakah memang dunia ini tlah menangis, melihat manusia-manusia yang menghuni, menginjak, menjamahnya tak perduli lagi dengan alam, lingkungan bahkan tak perduli lagi dengan sesamanya?

Hujan ini telah membuat jalan-jalan menjadi banjir. Bahkan jas hujan yang aku pakai sejak lepas dari kota Magelang menuju ke Jogja tetap tak bisa melindungi tubuhku dari tamparan air hujan yang turun. Ya, derasnya hujan yang menerpa wajahku terasa begitu perih dan menyakitkan. Seakan menegurku karena tak perduli dengan ulah sesamaku yang telah merusak dan menyakiti alam sekitar.. Membuat dunia semakin kotor, panas dan tidak bersahabat lagi. Mungkinkah langit marah, karena polusi udara yang terjadi dimana-mana? Keegoan manusia yang selalu menggunakan produk-produk yang merusak ozon.. Bahkan pabrik-pabrik yang membuang limbah dengan seenaknya, membuat polusi udara dengan hujan abunya hanya dengan alasan demi menghemat biaya produksi..

Lanjutkan membaca ‘Hujan’

27
Okt
08

Pagi ini

Pagi ini, aku melihatnya. Tubuhnya tergolek lemas tanpa daya, seakan sesuatu yang berat dan menyakitkan tlah membuatnya harus melepaskan segala atribut kegarangannya. Matanya yang sayu, menyiratkan kesakitan yang mendalam. Mengharapkan kasih dan pertolongan.

Di sudut lembab itu, ia hanya mampu meletakkan kepalanya ditanah. Tanah yang becek karena sisa hujan yang mengguyur tadi malam, juga karena air kran dari tempat tetanggaku yang tak hentinya mengalir turun. Membuat bulu-bulu itu semakin basah, terbalut dengan lumpur.

Aku mencoba mendekat, mencoba meraihnya agar kutahu, apa yang membuatnya begitu menderita. Tapi ia justru marah, menyiapkan kuku-kukunya yang tajam, menyeringai, memperlihatkan betapa kuat gigi taringnya bila menembus ke jari jemari tanganku.
Padahal aku hanya ingin mengelusnya, membantu meringankan sakit yang ia rasakan, karena nafas yang ia punya adalah sama dengan nafasku jua. Nafas dari kekasih sejatiku, dari ENGKAU ya Rabb…

Lanjutkan membaca ‘Pagi ini’

24
Okt
08

Rumah

Rumah ini, tak terasa telah mengantarkanku dalam berbagai rasa, berbagai kenangan… Rumah yang aku beli dari satu developer kenalan Bapak. Rumah tempat aku menciptakan suka dan dukaku, menemaniku saat sendiri, melindungiku dari panas dan hujan. Yang tak pernah mengeluh kala aku menusukkan paku ke dalam rongga-rongganya. Rumah yang selalu jadi tempatku pulang.

Rumah yang kuhuni memang tidak begitu luas. Tapi bagi kami, sudah lebih dari cukup. Mungkin karena kami hanyalah pasangan keluarga kecil dengan 2 orang anak. [1 anak malah ikut di rumah orangtua.. ]. Dengan 2 kamar tidur, 1 kamar tamu dan dapur. Masih ada lahan kosong di belakang dan garasi di depan. Alhamdulillah.. :-)

Yang membuatku semakin mencintai rumah ini adalah suara adzan yang selalu kudengar setiap waktu. Masjid yang terletak hanya 30 m di timur rumahku, membuat kami selalu merasakan indahnya saat mendengar panggilan Allah. Membuat buah hati kami QQ menjadi pintar menirukan suara muadzin saat menyerukan adzan, meskipun hanya dengan teriakan-teriakan dari bibirnya yang mungil. Namun sudah cukup membuat kami merasakan bahagia dan bangga. Melihat anak-anak begitu rajin berangkat ke masjid untuk belajar mengaji, menyuarakan kalimat-kalimat Allah dengan penuh semangat, karena jalan di depan rumah adalah jalan alternatif terpendek untuk menuju ke masjid.

Lanjutkan membaca ‘Rumah’

23
Okt
08

Handuknya mana?

Beberapa hari belakangan ini Paijo gelisah, bukan karena ia bohong tentang uang lembur dari kantornya. Tapi ia takut perselingkuhannya dengan Cempluk terbongkar. Gara-gara 2 hari yang lalu, ia mengajak TTMnya itu kerumah untuk indehoy bersama saat istrinya Minul pergi keluar kota.

Setiap kali Minul mendekat, Paijo pun berusaha menjauh.. mencari kesibukan agar tidak terlibat pembicaraan dengan istrinya. Lama kelamaan Minul pun tak kuasa menahan keinginannya untuk bertanya.

“Ada apa je Mas? Aku perhatiin beberapa hari ini kamu kok gelisah dan menghindar dari aku terus?”

“Ga papa dek… Aku hanya lagi pusing”, elak Paijo.

Lanjutkan membaca ‘Handuknya mana?’

23
Okt
08

Kehidupan

Hidup ga seperti yang dibayangkan, ga semudah dipikirkan ibarat matematika, juga ga segampang kata-kata. Kadang lepas seperti layang-layang, mampu meliuk bersama irama hati, kadang terhempas tak mampu tuk bergerak lagi. Hidup yang mengalir ibarat air kadang jauh dari harapan dan kesempurnaan. Semua hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas rasa sayang untuk kita makhluk-Nya. Apa yang ada dalam sketsa harapan kita, tak dapat terlukis dalam kanvas kenyataan. Hidup yang telah terpatri bersama belahan jiwa yang terpilih, mengucap janji hidup, merenda asa yang tertiti satu demi satu.

Namun hidup adalah hidup. Perjuangan di setiap episode. Penuh guratan rasa, serpihan lara, buncahan gembira. Hidup yang tlah kujalani bersama belahan jiwa, tlah sepanjang nafas yang ada pada buah hatiku.

Ada saatnya aku tak mengerti, guratan duka yang terpatri dalam wajah suamiku tercinta.. saat pulang dari berdagang. Hanya helaan nafas dan wajah yang tak ada cahaya. Entahlah, apa yang telah terjadi? Aku hanya mampu menunggu, detik berjalan demi detik.. Karena helaan itu masih berpelukan dengan emosi.

Lanjutkan membaca ‘Kehidupan’

22
Okt
08

Apa arti materi, bila cinta terabaikan?

Malam ini begitu sunyi, begitu hening, tanpa ada kata. Hanya detak jam seiring detik waktu, suara jangkrik yang tengah menyapa malam. Sunyi… Begitu melarutkan segala rasa, asa dan jiwa. Pada semua tubuh yang tengah melapangkan diri agar kembali dapat beraktivitas saat pagi hari nanti.

Tubuh ini memang tlah lelah… tapi mata dan pikiranku masih membeku tak bersahabat. Waktu tlah menunjukkan 22.30 WIB, bagiku sudah begitu malam. Belahan jiwaku dan buah hatiku tlah terlena dalam buaian renda minpi. Membangun asa tuk esok nanti. Doa-doa yang kubalurkan tlah menyelimuti mereka dengan lembut. Doa yang selalu sama… doaku untuk buah hatiku..

Aku melindungkan dengan nama dan kalimat Allah dari godaan syaitan dan bisikan jin yang jahat…”

Doa yang aku pinta dari kekasih sejatiku, dari Rabb ku. Ya, hanya kekasih sejatiku lah yang mampu menjaga, melindungi dan merawatnya kala aku tak mampu lagi.

Lanjutkan membaca ‘Apa arti materi, bila cinta terabaikan?’




Nyuwun sewu…

Buat yang nyari bacaan yang rada 'tinggi', maaf banget, blog ini bukan tempatnya. Ini cuman coretan dari isi hati, pengalaman, kilas balik perjalanan hidup, daaaannnn mungkin juga hidup kamu. Buatku ini adalah titik awal perubahan meskipun sekedar corat coret semata.. Siapapun boleh mengcopy paste isi blog ini tanpa ijin terlebih dahulu, asal mencantumkan sumbernya.
  • Buat yang sudah mampir berkunjung tapi belum dapat kunjungan balik, mohon dimaafkan, mohon diingatkan, karena yang mengunjungi blog ini, berhak mendapatkan kunjungan balik.. Terima kasih..

Kalender posting

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Kalender Hijriyah

Yang mampir isi ini dulu ya..

YM Online

Moodku berasa…

My Unkymood Punkymood (Unkymoods)

Blogroll

Bagi yang merasa link-nya belum tertulis, mohon konfirmasi ya...

Kedipan yang masuk

  • 16,392 Sejak September 2008