menjulang batas angan
berpagar pilar angkuh rasa jaim yang menebar bersama deru kepulan janji
meraup asa yang tercecer satu demi satu
mengalirkan airmata duka lara berbalur darah amis atas nestapa
oooooooo bumi, adakah KAU lelah berputar
saat manusia tak lagi terbungkus kasih dan iba
menegakkan kezaliman
meringkus kemanusiaan yang semakin menguap jauh
membumbung bersama asa kaum miskin dan papa
oh janji
tertebar bersemi
memuai bersama lelah penantian
rintihan yang semakin enggan didengar
hanya senyum palsu terindex
memesan kamar dalam lorong Rumah Sakit Jiwa
bersiap memanggul kesombongan
masihkah
perlu pembuktian atas janji
sementara kaki ini tak lagi mampu berdiri
tangan ini sakit saat mengepal
mata yang semakin kuyu memandang pilar kekuasaan
dan
otak yang tak mampu lagi berpikir jernih
melihat orang yang selalu haus kekuasaan
Indonesiaku
menjadi apakah ENGKAU kini?
karena bumi yang terpijak menaikkan senjata kemarahan
: tragedi demi tragedi ini, haruskah akan kembali berlanjut?
kembali pada nol
pada satu titik kecil yang terenda manis
lepaskan baju kegalauan itu
pudarkan saja bayang-bayang ketidakpastian
hancurkan penjaga yang hanya menggerogoti mahkota
aku tak takut lagi
pada kumpulan masa depan yang berkelok
karena ini, milikku, milikmu, milik kita
ini semua harus berarti meskipun janji mungkin hanya menjadi janji















kembali ke titik nol, kembali ke fitrah….
jangan ampe nol banget 0,000001 kek
Nggak nol-nol amat lah Mbak…..pasti dalam satu pohon ada buah yg berisi, bersih dan tak dimakan ulat, masak semuanya bopeng…….
Mbak Upik…ada sesuatu untukmu di blogku …..mampir ya…tak tunggu.
Kembali ke fitrahnya…
0-0….