suka dan duka
balutan yang telah terpanggul
saat memeluk dan menerima pinangan atas nafas kehidupan
tak ada jeda nyata
karena suka yang tertawa dalam bahagia selalu berdampingan dengan duka
yang merengkuh nestapa
suka dan duka
balutan yang telah terpanggul
saat memeluk dan menerima pinangan atas nafas kehidupan
tak ada jeda nyata
karena suka yang tertawa dalam bahagia selalu berdampingan dengan duka
yang merengkuh nestapa
menjulang batas angan
berpagar pilar angkuh rasa jaim yang menebar bersama deru kepulan janji
meraup asa yang tercecer satu demi satu
mengalirkan airmata duka lara berbalur darah amis atas nestapa
oooooooo bumi, adakah KAU lelah berputar
saat manusia tak lagi terbungkus kasih dan iba
menegakkan kezaliman
meringkus kemanusiaan yang semakin menguap jauh
membumbung bersama asa kaum miskin dan papa
meredup malu-malu
melirikkan sinar dengan keanggunan temaram
bersama siluet pandangan harmoni
karena surya yang masih mengokohkan diri dalam keperkasaan lembayung sore
Tak ada kue tart
tak ada pula lilin dengan jumlah sebanyak tahun yang telah terlewatkan
tak ada untaian bunga warna warni
juga lampu yang terang menerangi indahnya saat ini
masih juga sama
duduk bersama di atas kursi merah panjang
memandang lurus arah televisi tua
yang selalu setia menemani memberikan sejuta informasi yang berguna
Jangan ambil dia Rabbi
karena kuingin dia milikku
meskipun hanya sesaat, dalam batas waktu yang ENGKAU berikan
ijinkan aku mengecupnya
membelainya
merasakan segala kegundahan hatinya
melantunkan segala isi tulisannya
aku merambah kebisuanmu
mencari dalam detik seiring detak jam dinding
kan kupeluk bersama rindu ini
ah, apakan rasa ini setimpal dengan pengorbananku?
* teringat pertengkaran kita tadi pagi yang membuatmu menangis.. *
maafkan aku sayang..
pulanglah,
pulang bersama semilir angin di pematang padi
kan terhidang nasi dengan kuah bakso kesukaanmu
atas nama cinta yang membalut sepi
berbuah sendu yang tak ditemani duka
karna aku hanyalah satu tawanan rasamu
tertangkap saat hatiku tengah merampok pualam jiwa kekasihku yang lain..
ah, aku selingkuh..
terdakwa dalam kasus ke lain hati
tersangkut dalam pasal menduakan kasih
kini harus berada didalam tembok tafakur
dan tahajud malam yang penuh airmata
mendekap angin pagi
meretas mimpi tak berujung
tak terbangunkan dalam buih air candamu
aku hinggap pada mata
menebarkan nyanyian cinta
kau tanya
adakah cinta lain diajeng?
aku hanya mengedip mata sesaat
telah habis masa
mengabur bersama debu asap jalanan
tak terangkai pasti, mengais dalam kebisingan
bukankah kata telah menjadi nafas kemarin?
kutatihkan tanpa debar jantung senada angin
wuih, lagu itu tak berubah..
bait demi bait telah terjiplak sama
aku masih menunggu geramanmu
tercoret dalam kata tanpa makna
mengisi setengah dari batinku yang telah mengering
tutup semua pintu
tutupkan jendela itu
atau paku saja, biar rapat dan tak terhempas
biar mati tak berangin
menguap dalam lembab kamar kosong yang telah terlindas jaman
mengais atap kebisuan
berbulu sinar redup lilin membakar sepi : sunyi tak bermakna
akankah mati ini menjemput pagi
yang tertatih menyongsong datangnya surya berpijar
Komentar Terakhir