meredup malu-malu
melirikkan sinar dengan keanggunan temaram
bersama siluet pandangan harmoni
karena surya yang masih mengokohkan diri dalam keperkasaan lembayung sore
meredup malu-malu
melirikkan sinar dengan keanggunan temaram
bersama siluet pandangan harmoni
karena surya yang masih mengokohkan diri dalam keperkasaan lembayung sore
Jangan ambil dia Rabbi
karena kuingin dia milikku
meskipun hanya sesaat, dalam batas waktu yang ENGKAU berikan
ijinkan aku mengecupnya
membelainya
merasakan segala kegundahan hatinya
melantunkan segala isi tulisannya
aku merambah kebisuanmu
mencari dalam detik seiring detak jam dinding
kan kupeluk bersama rindu ini
ah, apakan rasa ini setimpal dengan pengorbananku?
* teringat pertengkaran kita tadi pagi yang membuatmu menangis.. *
maafkan aku sayang..
pulanglah,
pulang bersama semilir angin di pematang padi
kan terhidang nasi dengan kuah bakso kesukaanmu
Mak Minah, janda beranak satu sedang pusing tujuh keliling, karena Paijo, anak semata wayangnya yang telah berusia 27 tahun mengatakan ingin segera menikah.. Dan yang membuat Mak Minah tambah pusing karena ternyata Paijo belum memiliki satu orang pun pacar meskipun wajah Paijo sangat tampan.
Akhirnya atas saran dari anggota keluarga diadakanlah sayembara dan terpilihlah 3 finalis wanita.
Wanita I, kaya, matang, memiliki beberapa aset pribadi seperti mobil, rekening tabungan, rumah, bahkan perusahaan.
Wanita II, cantik, tinggi semampai, dari keluarga menengah, memilik pekerjaan sebagai Asisten Dosen di salah satu PTS bonafid di Jakarta.
Wanita III, feminim dan keibuan, membuka garment di rumah dan memiliki 10 orang yang bekerja padanya.
Mungkin ini salah satu pikiran yang paling gila sepanjang aku merengkuh nafas ini. Masih kurang apalagi sih aku? Punya belahan jiwa yang memiliki begitu banyak kelebihan. Paling tidak dia itu jago nyari duit, rajin absen dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, pandai menyanyikan kidung hati, pinter nidurin anak [istri juga seh...
], bisa bikin aku merasa melayang jauh di alam kenikmatan yang [Insya Allah] diridhoi Allah.
Tapi melihat berita di televisi yang gencar menyiarkan tentang perselingkuhan, bahkan posting di media on line pun tidak pernah lepas dari itu, membuatku jadi sedikit berpikir dengan kata.. seandainya… ;;-)
Beberapa hari belakangan ini Paijo gelisah, bukan karena ia bohong tentang uang lembur dari kantornya. Tapi ia takut perselingkuhannya dengan Cempluk terbongkar. Gara-gara 2 hari yang lalu, ia mengajak TTMnya itu kerumah untuk indehoy bersama saat istrinya Minul pergi keluar kota.
Setiap kali Minul mendekat, Paijo pun berusaha menjauh.. mencari kesibukan agar tidak terlibat pembicaraan dengan istrinya. Lama kelamaan Minul pun tak kuasa menahan keinginannya untuk bertanya.
“Ada apa je Mas? Aku perhatiin beberapa hari ini kamu kok gelisah dan menghindar dari aku terus?”
“Ga papa dek… Aku hanya lagi pusing”, elak Paijo.
Ga biasanya Minul termenung, cewek centil yang biasanya gubrak-gabruk kesana-sini. Suka dandan sambil senyam-senyum, lenggak-lenggok bak penari karbitan. Bahkan dengan body bak Kuda Nil Afrika dia sering menyenggolkan pantatnya ke orang-orang yang dilewatinya. Tapi sekarang, dia hanya diam, memasang muka sedih. Aneh… Tetangga yang suka ngerumpi bareng pun ikutan gelisah, bertanya satu sama lain. Ada apakah dengan Minul?
Mengapa pantat Minul yang biasanya bergoyang, kini tak lagi terlihat? Mengapa wajah Minul yang full cengiran tak nampak giginya?
Bulik Sri berbisik, “Minul aneh, ada apa ya?..“.
“Ga tau ya, kayaknya dari tadi pagi deh..“, jawab Cempluk sambil menggigit kutu rambut yang didapat dari kepala Bulik Sri.
Sepasang suami istri, Minul dan Paijo memiliki kebiasaan oral sex sebelum melakukan penetrasi. Kebetulan malam ini malam Jum’at, baik Minul maupun Paijo sudah bersiap-siap untuk melakukan sunatullah, STMJ (Setoran Terenak Malam Jum’at).. Setelah menidurkan anak mereka, Minulpun segera menyusul Paijo didepan TV, area tempat untuk ML.
“Anak sudah tidur?“, tanya Paijo. “Sudah“, jawab Minul.
Paijo pun segera mendekati Minul, menciuminya dan mencumbunya dengan hot. Minul pun tak mau kalah dan membalas serangan Paijo. Saat Paijo sudah membuka burungnya, Minul pun seperti biasa segera mengarahkan posisi ke arah burung Paijo. Semenit, dua menit sampai akhirnya Paijo merasa tidak kuat lagi dengan serangan Minul. Pertahanannya mulai bobol.
Komentar Terakhir